Tas Sekolah Saya Berisi Buku dan Beras
Dimuat KOLOM MINGGU,
edisi tgl 8-8-2015 Sumeks Minggu
Oleh T
Junaidi
Membicarakan
Airsugihan, tentu teringat era 1990-an, Airsugihan
begitu tersohor sampai seantero dunia bukan karena daerahnya yang hijau dikepung
hutan, tapi karena kelaparan hingga
merenggut jiwa warga. Berita itu begitu heboh sampai masuk berita internasional
reuter. Koran paling berpengaruh di Jakarta memblock up berita tersebut hingga
Menteri dalam negeri (saat itu Rudini) mencak-mencak. Gubernur kena semprot
habis-habisan. Pemimpin redaksi kena bentak. Berita yang siap diterbitkan besok,
malamnya kena breidel Gubernur.
Sebuah tamparan hebat dimuka
presiden Soeharto saat itu, bagaimana tidak, disaat Soeharto harus menerima
penghargaan swasembada pangan, disisi lain warga transmigrasi meninggal dunia
akibat kelaparan. Sebuah berita kontradiktif. Swasemada pangan, tapi warga
transmigrasi makan umbut pisang. Nasib Airsugihan tampaknya memang harus
begitu. Harus ada cerita sedikit tragis dan mengharu-biru. Istilah orang jawa telah datang musim pageblok,
setiap jam ada orang meninggal dunia.
Sebagai anak
petani, saya benar-benar merasakan masa-masa sulit di Airsugihan. Lahan pertanian
cukup lama menjadi lahan tidur karena susah ditanami. Para petani selalu gagal
panen. Jangankan tanaman padi tumbuh hingga berkembang, seminggu ditanam,
seminggu kemudian mati akibat kadar garam terlalu tinggi naik ke areal
persawahan. Pada musim berikutnya, tanaman siap panen, seminggu kemudian ludes
diserang hama tikus. Habis tanaman padi, tanaman singkong dan ubi rambat, juga
menjadi sasaran hama tikus dan babi hutan. Masyarakat belum menikmati panen
padi dan singkong, musim kemarau panjang datang, air bersih sulit didapat.
Masyarakat banyak memburu air minum di hutan-hutan. Itu pun bukan air tawar,
tapi air payau, sedikit asin dan masam. Maka lengkaplah, penderitaan warga Airsugihan
saat itu, paceklik dan kelaparan.
Setiap tahun mudik, setiap tahun juga
saya selalu memperoleh kabar kemajuan tentang Airsugihan. Lahan Airsugihan
tidak seperti masa kecil saya dulu, yang tidak laku dijual. Menjadi anak petani
Airsugihan benar-benar tersiksa. Mau sekolah harus memikirkan perut
keroncongan. Pergi ke sekolah tidak seperti jaman sekarang, motornya
bagus-bagus. Dulu saya pakai sepeda onthel saja rodanya harus dibalut ban karet
karena meletus, tapi dipaksa dipakai yang penting roda masih bisa berputar.
Setelah sampai sekolah, pikirannya
bukan pelajaran apa, tapi mau cari gelidikan (kerjaan) apa? Airsugihan tidak
ada lapangan pekerjaan lain kecuali terbas lahan. Anak-anak usia SD, SMP dulu
pikirannya sudah seperti orang tua. Untuk membayar sumbangan penyelenggaraan
pendidikan (SPP), harus mencari kerjaan, karena kita sadar orang tua tidak
punya duit. Setelah dapat duit hasil kerja terbas lahan, bisa bayar SPP dan
menyisihkan beli beras untuk makan adik-adik di rumah. Jadi pulang sekolah isi
tasnya adalah buku dan beras.
Kini Airsugihan sudah seperti emas
yang tertimbun di tengah hutan. Seperti mutiara yang berkilau dikubangan lumpur
sawah. Saya terbengong mendengar kabar menggarap lahan itu cuma butuh waktu 2
atau 3 hari saja. Sementara masa kecil saya, menggarap lahan sehektar, butuh
waktu hampir sebulan, mulai terbas rumput sampai mencangkul dan meratakan
lahan. Kini petani Airsugihan tidak butuh waktu lama menggarap lahan. Petani
sudah mendekati modern. Tidak terlalu butuh cangkul dan parang, cukup racun
rumput dan traktor. Dulu menggarap lahan 2 hektar cukup berat, kini 10 hektar
enteng. Wajar lahan di Airsugihan kini terlihat makin seksi dan diperebutkan.
Kabar
sengketa lahan itupun terjadi di zaman sekarang, dulu tidak ada sengketa lahan.
Dikasih Cuma-Cuma seluas 2 hektar saja ditolak karena takut tidak bisa
menggarapnya. Tapi kini, sudah punya 2 hektar, ingin 4 hektar, sudah punya 4
hektar ingin punya 10 hektar. Berapapun luasnya, masyarakat mengaku masih
kurang. Bukan kurang tenaga, tapi kurang lahan garapan. Dan yang paling rawan
sengketa lahan adalah lahan perbatasan antara lahan warga dengan lahan yang
masuk peta wilayah HGU. Wilayah perbatasan ini biasanya ada yang disisakan
beberapa hektar, ada juga yang langsung berbatasan dengan lahan warga.
Sedangkan
perbatasan yang disisakan beberapa hektar, dengan maksud agar warga setempat
bisa mengelola untuk ditanami palawija atau padi dan turut menjaga Lahan PT.
Tapi oleh oknum-oknum tertentu, atau yang mengatasnamakan organisasi
kemasyarakatan, lahan itu dikuasainya. Warga kalau mau menggarap harus
menandatangani pernyataan menggarap lahan milik organisasi masyarakat. Cara
akal-akalan inilah yang terkadang menyulut perselisihan antar warga yang
menggarap lahan tersebut dengan organisasi. Belum lagi ketika lahan tersebut
diperjualbelikan, akhirnya menjadi masalah yang panjang dan tidak ada titik
temu, karena semua tidak memiliki dasar hukum kepemilikan hak atas tanah atau
sertifikat tanah. Masyarakat boleh menggarap lahan, tapi sifatnya numpang.
Airsugihan kini benar-benar seksi.
Menjadi anak Airsugihan sudah bisa bangga, tidak lagi minder disebut-sebut wong
jalur. Dulu saya minder disebut wong jalur, karena yang popular adalah
kemiskinan dan kelaparan. Wong pelosok dan sangat udik. Kini sebentar lagi
Airsugihan benar-benar menjadi kota mewah ditengah hutan.
Kota yang oleh bangsa asing, adalah surga ditengah hutan. Hal
itu setelah berdirinya PT Sebangun Bumi Andalas (SBA) Wood Industries dan telah
menerima sertifikasi dari lembaga sertifikasi PT Tuv Rheinland Indonesia.
Pengelolaan Hutan Tanaman Lestari (PHTL) yang merupakan perwujudan dari konsep
pembangunan bidang kehutanan yang berkelanjutan.
Setelah dibuka PT SBA ini,
Airsugihan mulai tersohor lagi sampai seantero dunia. Pabrik kertas yang bakal
didirikan itu tidak hanya terbesar se-Asia Tenggara, tapi terbesar
Internasional. Saat ini saja tamu yang datang ke SBA atau sungai Baung, banyak
dari Negara Inggris, Jerman, Jepang, Cina dll, terutama tenaga ahli mesin yang
memang didatangkan dari jerman. Dan yang unik lagi, pedagang sayur dan
buah-buahan sudah mulai belajar bahasa Ingris agar bisa berkomunikasi langsung
ketika bertransaksi dengan mereka. Hebat, Airsugihan menjadi kota Internasional
di tengah hutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar