Petani Sejati Dan Petani
Jadi-jadian
Oleh T Junaidi
Saya
akan memulai dari masa sulit saya ketika menjadi petani di wilayah paling ujung
Air Sugihan, yaitu desa Sukamulya Jalur 23. Pada tahun 1984, usia saya
menginjak 15 tahun duduk dibangku SMP. Ketika itu tanaman padi tumbuh subur,
lahan gambut masih menjadi penyuplai nomor satu pupuk secara alamiah, warga
benar-benar merasa berhasil menjadi petani. Hampir seluruh desa se-Air Sugihan
siap panen raya secara serentak ditahun-tahun pertama menjadi petani (1984).
Dan
ketika ibu saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut panen
raya besok pagi, Ibu menghampiri semua tetangga kanan kiri, para paguyuban tani
serta karang taruna untuk ikutserta merasakan kebahagiaan kami. Ibu nampak
begitu semangat tanpa lelah menyiapkan makanan untuk warga yang bakal datang
bekerja memanen padi kami pada keesokan harinya.
Pada pagi buta usai sholat subuh, ibu sudah tidak sabar
lagi langsung menuju sawah. Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba ibu menjerit
menangis sejadi-jadinya. Kami sekeluarga terkejut, ada apa ibu menangis
ditengah sawah? Kami sekeluarga bergegas menuju sawah dan menghampiri ibu. ‘’Le
parine dewe le…iki piye le….iki ono
opo….ono pertondo opo…(Nak padi kita nak, ini gimana…ada firasat apa…?)’’ ujar
ibu dengan kondisi lemas. Betapa terkejutnya kami melihat padi disawah hilang
dari pandangan kami. Tidak seperti yang kami lihat sebelumnya, menguning seluas
mata kami memandang hamparan sawah. Kami semua terbengong, bulu kuduk kami
berdiri. Pikiran kami melayang jauh menghubung-hubungkan antara nyata dan
tidak. Kami cukup lama terbengong ditengah sawah sambil memeluk ibu, seperti
tidak percaya. Siapa yang memanen padi kami semalam?
Tak lama kemudian,
tetangga kami juga tergopoh-gopoh lari dari pematang sawah untuk memberitahukan
tetangga dan saudaranya kalau padinya hilang. Tetangga lain ternyata mengalami
hal serupa, bahwa malam itu, ratusan
hektar lahan petani ludes diserang hama tikus. Waktu yang cukup
singkat-hanya satu malam saja tikus
mampu menghabiskan ratusan hektar lahan padi. Berapa juta tikus yang saat itu
tumplek blek diareal persawahan? Ini cukup mengerikan. Malam harinya kami
mencoba ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi di sawah? Lagi-lagi kami
terbengong, seperti ada keanehan yang menyelimuti perasaan kami. Tak salah
kalau akhirnya kami juga menghubung-hubungkan secara irasional, bahwa ini
perbuatan jin setan periperayangan. Sing baurekso Air Sugihan sedang pesta
pora.
Setahun
kemudian setelah kami gagal panen,
ternyata serangan tikus tidak berhenti sampai disitu, malah semakin
menjadi-jadi. Semua tanaman petani habis digasak tikus. Upaya apapun sudah
dilakukan, baik perburuan tikus maupun tirakat. Para sesepuh kampung melakukan
kenduri besar tirakatan. Kami semua tidak tenang, ada rasa kawatir bila
menjelang malam. Suara tikus hutan terdengar begitu aneh, tidak seperti suara
tikus pada umumnya, tapi suaranya menyerupai suara anjing, bedanya frekwensi
suaranya tidak sekeras anjing, karena jumlahnya ribuan, suara tikus gemuruh
saling bersautan.
Pada
siangnya, kami dan semua warga kompak untuk turun ke sawah memburu tikus. Tapi
kami sempat bertanya-tanya dimana sarangnya? Diseputaran sawah tidak ada sarang
tikus, atau dipematang sawah juga tidak ada. Para petani saat itu tidak sadar
kalau dilingkungan areal pertanian itu ada hutan semak-semak yang mengepung
lahan petani. Selain hutan lahan PU yang terletak diantara dua desa, maupun
hutan pinggir areal lahan petani arah sungai besar. Di hutan itulah sarang
semua hama padi, ada tikus, babi hutan, monyet, burung, belalang dan lain-lain.
Setelah
hutan dibabat, saat itu belum ada larangan bakar-bakaran lahan, petani sangat
terbantu menggarap lahan dengan cara membakar. Dengan demikian, semua hewan
keluar, termasuk celeng (babi hutan), rusa, tikus, ular dan lain-lain. Semua
hewan lari tunggang langgang meyebar ke areal persawahan. Dan tikus-tikus yang
tidak sempat lari, kebanyakan terbakar. Nah ketika tikus yang jumlah sudah
tidak begitu banyak, petani tinggal meracuninya tiap malam di pematang sawah.
Areal
hutan tinggal ranting kayu yang malang melintang, akhirnya pelan-pelan
difungsikan warga menjadi lahan pertanian. Selain bisa menghasilkan, juga
meminimalkan menjadi sarang segala macam hama. Hingga tahun 1997 petani agak
bernafas lega setelah tahun 1991 heboh. Sampai tahun 1998 sudah mulai aman dari
gangguan tikus hingga tahun 2000 an keatas sebagai puncak keberhasilan petani.
Panen raya berkali-kali dilakukan dengan mengundang Bupati, Gubernur untuk ikut
merasakan kebahagiaan warga tani.
Kini
setelah beberapa kali saya mudik ke air sugihan, saya mulai dikejutkan banyak
masalah. Bukan lagi hama tikus yang mengepung petani, tetapi perkebunan sawit
yang mengepung lahan pertanian, mulai dari desa Bukit Batu, Rengas Abang,
Pangkalan Damai, Nusantara, Margatani, Tirtamulya, Sukamulya dan Jadi Mulya
semua dikepung perkebunan sawit.
Warga
mulai resah kembali dengan kehadiran perkebunan yang tiba-tiba menguasai lahan
petani. Lahan tempat babi hutan dan tikus yang sudah dikangeli (diupayakan)
dengan peluh dan perut lapar, berhari-hari bergulat dengan batang kayu yang
malang melintang, kini beralih fungsi menjadi lahan perkebunan dan warga hanya
akan diberi tali asih 2,5 juta per hektar. Tentu ini sangat menyakitkan dan melukai
hati petani disaat petani baru saja mengenyam kemakmuran dari jerih payah
selama ini.
Perselisihan pun semakin jadi, warga tidak akan menyerahkan
lahannya begitu saja meski pihak PT merasa gagah menenteng surat ‘sakti ‘ ijin Hak
Guna Usaha (HGU) dari pemerintah. Lantas
warga harus menenteng apa untuk berargumentasi mengenai lahan hasil garapannya?
Ini namanya petani sejati berhadapan
dengan petani jadi-jadian. Karena petani
sejati turun ke lahan dan tahan lapar, dibakar matahari dan bermandi hujan.
Petani jadi-jadian tidak turun ke lahan, melainkan gentayangan ke kantor-kantor
perijinan garapan. Siapa sejatinya yang berhak mengenai lahan garapan tersebut?
(*/bersambung)
(Penulis adalah General Manager Sumatera Ekspres
Minggu dan Harian Sumatera Hari ini (SHI)—Jawa Pos Group/Anak Petani
Airsugihan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar