06 Agustus 2008

Dua Puluh dua Tahun, Satu Keluarga Menderita Lumpuh Layu

Berharap Ada yang Membantu,

jika Berobat Gratiskah?

Memprihatinkan. Selama 22 tahun pasangan Mat Saini (60) dan Nismawati (40), harus menghidupi empat anaknya yang lumpuh sejak usia satu tahun. Selain itu, warga Desa Sukarela Semuntul, Rantau Bayur, Banyuasin ini hampir putus asa didera kemiskinan. Bantuan yang mereka harapkan pun sangat jarang tiba.

----------------------------

Triono Junaidi - BANYUASIN

----------------------------

Kali Pertama Sumatera Ekspres mengunjungi rumah keluarga Mat Saini dan Nismawati ini, hampir tak percaya. Rumah panggung kecil ukuran 4x5 meter yang atapnya dari daun nipah, serta dinding dan lantainya dari papan yang sudah lapuk ini, sepintas tak ada penghuninya. Dari kejauhan rumah tersebut (maaf) seperti kandang kambing karena tiang penyangganya terbuat dari batang kayu yang utuh tanpa disugu. Disamping kanan kiri tumbuh rumput dan barang-barang berantakan.

Begitu koran ini sampai di depan tangga naik ke rumah tersebut, rasanya benar-benar trenyuh. Dua anak manusia tergolek tak berdaya. Mereka tergolek tak bersuara adalah Daud Damsir (9) dan Khoiriah (8), kondisinyanya hanya bisa menggeleng–gelengkan kepala. Oleh ibunya, sengaja mereka dibaringkan di teras rumah agar bisa menghirup udara segar dan terkena sinar matahari pagi, dari celah dinding dan atap yang memang renggang. Sedangkan kakak tertua Hilpawati (22) dan Hisnaini (10), malah sudah parah, tidak bisa diangkat-angkat lagi. Mereka berada di dalam ruang tamu yang merangkap sebagai tempat tidur dan dapur, penuh barang-barang rumah tangga.

Pemandangan ini benar-benar terasa sangat memilukan. Ketika koran ini berada di rumah tersebut, empat anak yang lumpuh itu tidak ada yang menjaga. Kedua orangtuanya tidak ada di rumah. Kebetulan Ny Nismawati berada di sungai mencuci pakaian, sedangkan Mat Saini sehari-hari sebagai pedagang sayur di kalangan (pasar). Sedangkan tetangga paling dekat, kira-kira 4 meter dari rumah keluarga lumpuh itu, juga terlihat sepi.

”Maaf, baru saja mencuci pakaian kotor anak-anak, Pak,” ujar Ny Nismawati dengan jalan tergesa-gesa usai pulang dari sungai kepada koran ini. ”Selama 22 tahun kami tidak bisa melakukan apa-apa. Kami hanya bisa menjaga mereka. Menyuapi makan, mengganti pakaian kalau kencing dan berak. Mereka sudah tidak bisa apa-apa lagi. Yang paling lama lumpuh adalah anak nomor dua, yaitu Hilpawati. Sejak usia setahun, kini sudah 22 tahun. Padahal ketika bayi dulu, dia lahir normal seperti bayi umumnya, yaitu suka loncat-loncat,” ujar Hismawati sambil mempersilakan koran ini duduk.

Mereka seperti terkejut ketika koran ini masuk, tubuhnya yang kurus layu itu terlihat menggeliat-geliat. Kedua matanya membelalak ke atas dan mulutnya komat-kamit seperti ingin berbicara, tapi tak bisa. Mungkin punggung mereka terasa panas karena seharian tidur tanpa bisa mengganti posisinya.

Hilpawati, gadis usia 22 tahun, posisi tidurnya paling pinggir dekat rak piring makan dan disampingnya terdapat baterai accu untuk bola lampu penerang ruangan, serta sebelah pintu jendela tergolek Hisnaini, anak nomor dua, dekat rak barang-barang rumah tangga termasuk sepeda kayuh butut untuk alat transportasi bapaknya jualan sayur. Hismawati lalu mengangkat dua anaknya yang diteras, Daud Damsir dan Khoiriah untuk dikumpulkan dalam satu ruangan di ruang tamu.

Saat keempat anaknya ini kumpul jadi satu, siapapun rasanya ingin menangis melihatnya. Beberapa kali ibunya harus menggantikan celananya karena kencing di tempat. Lalu mencucinya agar bisa untuk gantian berikutnya. Belum lagi, suasana rumah yang sepi, seperti diakui Ny Nimawati selalu membuat pikiran meratap-ratap.

Sehari di ruangan kecil pengab yang hanya cukup untuk tidur keempat anaknya itu, rasanya ingin menangis. Tidak bisa dibayangkan bagaimana penderitaan Ny Nisnawati dan suaminya Mat Saini selama berpuluh-puluh tahun itu?

”Kami berharap, ada yang mau membantu kami. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tidak bisa bekerja karena harus menjaga mereka. Yang kerja hanya bapaknya, itupun hanya jualan sayur, untungnya cukup untuk makan sehari. Kami sangat berharap kepada anak saya yang paling kecil, mumpung belum parah, harapan kami ada yang mau membantu kami,’’ Nismawati mencoba untuk bersikap tabah, tapi terlihat titik air meleleh di pipinya sembari terus membenahi posisi tidur anak-anaknya.

Menurut Nisnawati, sebelum terjadi kelumpuhan total, tidak ada tanda-tanda yang mencolok, misalnya badan anak-anaknya panas tinggi atau gejala-gejala lain. ‘’Tak ada tanda-tanda yang mencolok, Pak. Demam juga tidak. Cuma anak saya sebelum lumpuh, badannya pernah tumbuh benjolan sebesar ibu jari berisi air. Kalau pecah, dia menangis karena perih. Tanda-tanda lainnya tidak ada. Rata-rata semuanya saat lahir ya normal seperti bayi umumnya,’’ jelas Nisnawati.

Baru menginjak 1 tahun lebih, mulai layu dan kedua kakinya mengecil hingga akhirnya tidak bisa bergerak. Nisnawati semula menganggap penyakit anaknya itu biasa-biasa, namun setelah 6 tahun kemudian dan melahirkan anak ketiga dan keempat, ternyata mengalami nasib yang sama, kecuali anak pertamanya bernama Indrayani yang tumbuh sebagai anak yang normal hingga perkawinan dan melahirkan anak. Begitu juga anak paling kecil, Khoiriah, meski kini sudah terlihat juga mulai layu, namun masih bisa untuk diajak bersenda gurau, sedangkan ketiga kakak-kakaknya sudah tak bisa apa-apa lagi.

”Bagaimana saya bisa membawa anak-anak saya ini berobat ke luar. Kami pasti akan membutuhkan banyak biaya. Selama ini, kami hanya berobat ke petugas kesehatan setempat, selanjutnya kami berobat ke dukun,” ujar wanita setengah baya itu sembari menuturkan bahwa upaya terakhir adalah meminta bantuan Kades Sukarela membawanya ke rumah sakit untuk berobat gratis.

Jarak rumah Matsani memang cukup jauh. Koran ini mencarter speedboat dari Jembatan Musi 2 menuju kawasan perairan Desa Sukarela. Perjalanan dengan speedboat selama satu jam, atau menggunakan kapal motor selama dua jam. Jarak tempat tinggal penderita lumpuh sekeluarga ini dengan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Semuntul kira-kira berjarak 3 km, atau 1 km dengan puskesmas pembantu dan rumah kepala desa (kades).

Ada satu hal yang merasa jadi masalah bagi Ny Nismawati bila keempat anaknya jadi dibawa ke rumah sakit. ‘’Apa benar, bisa berobat gratis?’’ begitulah kata Nismawati balik bertanya. Kalau saja nantinya mendapat pengobatan gratis, tapi Ny Nismawati merasa tidak mampu untuk biaya sehari-hari berada di rumah sakit. Hal itulah yang selalu menghantui Ny Nismawati dan Mat Saini membawa anaknya berobat ke rumah sakit.

”Kami kalau ada cukup biaya, paling-paling ke dukun. Atau kalau saya dengar ada orang pintar, saya datang. Mudah-mudahan anak yang paling kecil saya ini bisa segera ditolong,’’ jelas Nismawati yang saudara sepupunya di Lampung, Nasrudin (40), juga mengalami nasib yang sama. Ketiga anaknya, Gunawan, Angga, dan Sela juga menderita lumpuh. Mereka juga tidak memiliki gejala yang berarti, melainkan secara perlahan-lahan terjadi kelumpuhan.

Askaroni, kades Sukarela ketika ditemui koran ini, mengaku sudah melakukan upaya untuk menolong warganya yang menderita lumpuh itu. Salah satu upayanya adalah mengusahakan membuatkan KTP dan Kartu Keluarga untuk diteruskan ke rumah sakit sebagai pasien dari keluarga tidak mampu. ”Maklum saya baru beberapa bulan ini terpilih sebagai kades yang baru. Jadi baru kali ini kami mengusahakan untuk meringankan beban keluarga Mat Saini,’’ ujar Askaroni.

Pimpinan Puskesmas Semuntul, dr Hermanto, ketika dikonfirmasi Sumatera Ekspres mengatakan bahwa penderita lumpuh yang dialami keluarga Mat Saini dan Nismawati ini bukan lumpuh akibat folio, melainkan herediter atau penyakit yang diturunkan. Penyakit gen resesif merupakan masalah karena seorang yang memiliki gen resesif merupakan pembawa (carrier) dan tak menampakkan penyakitnya. Dengan demikian, tanpa disadari ia akan terus menyebarkan gen resesif pada keturunannya. Bila terjadi perkawinan antarsesama carrier untuk suatu penyakit resesif, barulah dapat muncul gejala penyakit tersebut, sehingga perkawinan antardua orang yang berhubungan keluarga, akan memperbesar risiko pemunculan penyakit genetik.

”Seseorang yang memiliki gen dominan akan menampakkan keadaan dominan tersebut. Memang penyakitnya itu mungkin tidak secara langsung, makanya ketika kita melihat kedua orangtuanya sehat, tapi bisa jadi anaknya atau cucunya yang mengalami,” ujar Hermanto. ”Dan ini sudah terjadi juga pada sepupunya yang di Lampung, juga mengalami penderitaan yang sama, anak-anaknya juga terkena lumpuh,” lanjut dokter.

Bgaimana menanggulanginya? Penderita sebaiknya memang harus dirawat supaya mendapat perawatan yang intensif dan mendapat asupan gizi yang baik. Setidaknya bisa memperlambat penyebaran penyakit dalam tubuhnya. Dan yang terpenting, kata Hermanto, dermawan yang mau menolong untuk meringankan beban kehidupan mereka. (*)

18 April 2008

Sumsel Lumbung Energi Nasional

Menristek: Lebih Ekonomis Kirim Listrik ke Jawa

Sumatera Selatan sebagai lumbung energi nasional (LEN) menjadi sorotan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman. Menurut dia, pembangunan pembangkit mulut tambang di daerah ini, akan lebih efisien dengan hanya mentransfer listrik. Langkah ini, sekaligus mengubah paradigma bahwa semua tidak harus dari Jawa.

"Saya kira lebih ekonomis kalau mentransfer listriknya. Paradigma semua ada di Jawa harus digeser mulai dari pembangunan kabel interkoneksi. Kita bangkitkan di tempat lain, Jawa jadi konsumen," ujar Menristek, usai membuka rapat koordinasi nasional riset dan teknologi tahun 2008 di Hotel Swarna Dwipa Palembang, kemarin (16/4).

Saat ini, lanjut Menristek, rencana dan rancangan interkoneksi Sumatera-Jawa sudah di atas kertas. Hanya saja, masih perlu dilakukan kajian tehno ekonomi. Termasuk, jenis teknologi paling tepat yang akan dipakai.

"Sementara ini, kita lihat paling tepat adalah mengirimnya dengan menggunakan teknologi HVDCT (High Voltage Direct Current Transmision). Tegangan tinggi dengan tegangan searah. Listrik kita selama ini tegangan bolak-balik, kita ubah menjadi tegangan searah dan kita transmisikan kemudian kita ubah lagi. Ini secara makro ekonomi masuk akal," beber Menristek.

Ia memperkirakan, dalam waktu dekat atau akhir tahun jaringan interkoneksi Sumatera-Jawa akan menjadi bagian dokumen tender. "Tapi, kita juga perlu dikaji detail lewat mana jalurnya. Proses pemetaan dasar laut harus dilakukan untuk melihat perilaku arus laut. Termasuk potensi bencana seperti ancaman anak krakatau maupun pusat-pusat gempa."

Anda ikut mendukung pembangkit mulut tambang? "Insyaallah. LEN Sumsel sudah berjalan, karena jumlah energi kalau di-equivalen sudah 7 ribu MW (Mega Watt). Ragam sumber energi begitu lengkap di sini, makanya Sumsel berhak menyandang lumbung energi dan dia berhak memasok. Saat ini pembangkit listrik di Sumsel sudah bukan untuk kebutuhan sendiri tetapi menghidupi tetangga-tetangganya. Kita juga kepingin dia nyeberang ke Jawa," harap Menrisktek.

Terkait proyek PLN 10 ribu MW, Menristek mengatakan, beberapa pembangunannya akan ada di Sumsel. Pembangkit listrik bisa dibuat, dengan nantinya mengalirkan lsitrik untuk memenuhi interkoneksi Sumatera. Jika ini terlaksana, kebutuhan listrik sendiri akan surplus, jadi harus membantu Pulau Jawa.

"Memang 70 persen pembangkit itu di Jawa dan 30 persen tersebar termasuk ada di Sumsel. Tapi, jangan lihat crash program 10 ribu MW pemerintah saja. Lihat juga 10 ribu MW yang IPP (independent power producer)," katanya.

Hanya saja, tambah dia, yang menjadi problem dengan IPP, pemerintah sudah sungguh-sungguh tapi kontraktornya main-main. "Dia bilang aku sanggup, tapi saat kontrak dia bilang tidak ada uang. Jadi sebenarnya bukan terkendala jaringan interkoneksi. Jangankan interkoneksi, di Sumatera juga 'kan masih kurang. Sumut masih sangat butuh. Kalau misalnya IPP di Sumsel ini jalan, akan di beli PLN untuk suplai Sumbar, Riau dan Sumut," tegasnya.

Ia menyebut, ada 20 kontrak IPP yang sudah diteken, namun berjalan dua. Yang lain masih berkutat pada isu mencari pendanaan.

Mana lebih penting, IPP dulu atau jaringan dulu? "Sekarang jaringan sudah ada, yang kurang IPP. Kita tidak akan byar pet kalau IPP jalan sesuai rencana," imbuhnya. (19/*)

19 Maret 2008

Pelopor Sekolah Gratis

Siapa Pelopor Sekolah Gratis
Yang Sesungguhnya di Sumsel?


Terima Kasih Pak Gubernur Sumsel
Yang Sudah Memperhatikan
Guru-guruku di Airsugihan

Triyono Junaidi, Redaktur Harian Sumatera Ekspres ketika bincang-bincang dengan anak-anak SD Sukamulya

Inilah sekolah dasar (SD) di Jalur 23 desa Sukamulya,Kecamatan Airsugihan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Rata-rata SD di jalur memang bentuknya seperti itu. Malah ini sudah sangat lebih baik dibanding ketika SD tersebut pertama berdiri, yakni bersamaan dengan datangnya warga trans
Gubernur menginstruksikan Kadinkes Sumsel untuk mengoperasi penderita tumor kulit di kecamatan Rantau Panjang OI

Airsugihan pada 1982 lalu. Saat itu belum ada gedung sekolah, yang ada hanyalah pemukiman-pemukiman penduduk yang kebetulan kosong, belum ditempati.
Orang pertama yang menjadi pelopor pendidik adalah almarhum Rivai, orang Kendal Jawa Tengah. Dia begitu semangat mengajak para warga untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bagi warga desa Sukamulya, Pak Rivai adalah pahlawan. Dia selain pelopor pendidikan,juga satu-satunya pelopor sekolah gratis di Sumsel.

Gubernur Sumsel Ir Syahrial Oesman bersama warga Sungsang

Jadi kalau kita dengar sekarang ada pelopor sekolah gratis, tidak heran. Bisa jadi sekolah gratis itu hanya muatan politik yang justru bisa jadi pertanyaan publik, apa iya benar-benar gratis.
Warga Sungsang foto bersama Gubernur Sumsel Ir Syahrial Oesman

Pak Rivai benar-benar sosok yang jauh dari muatan politik seperti sekarang ini. Dia begitu ikhlas mendidik anak-anak warga trans tanpa imbalan gaji serupiahpun. Warga trans juga tidak ada yang membayar lantaran saat itu banyak yang tidak punya uang. Bagaimana mau mendapatkan uang? Pada tahun 1982 hingga 1983, warga trans baru penyesuaian lingkungan. Tak heran pada tahun pertama datang di wilayah yang asing itu, banyak warga meninggal dunia. Sehari bisa empat atau lima orang meninggal secara bersamaan. Orang Jawa menyebut dengan istilah pageblok. Penyebabnya adalah muntaber, banyak yang kekurangan air karena sumber air tawar tidak ada, yang ada hanyalah air payau, air asin. Warga belum tahu bagaimana mendapatkan air tawar sebagai kebutuhan untuk minum. Akhirnya warga memanfaatkan air sumur yang terasa asin, dan air sungai yang tidak bisa dijamin dari segi kebersihan, karena sungai difungsikan sebagai MCK (masak, cuci, kakus).


Triyono Junaidi dan Mas Hari di ruang rapat redaksi Harian Sumatera Ekspres

Tahun awal kedatangan warga trans, benar-benar seperti lembaran baru. Seperti hidup baru entah di alam mana. Banyak yang belum bisa cara menggarap lahan yang baik dan benar. Semua warga hidupnya masih bergantung kepada pemerintah pusat dengan menunggu logistik bulanan, yaitu menerima beras, ikan asin, gula dan garam. Logistik itu dijatah selama 18 bulan.Menyambut kunjungan para artis, Shireen Sungkar ke redaksi Harian Sumatera Ekspres

Di tempat yang serba kekurangan itu, ternyata tidak membuat surut semangat juang warganya. Mereka yang sedikit pintar, tahu cara memanfaatkan ilmunya dengan cara mengabdikan diri sebagai guru SD (meskipun tamatan SMA). Di SD yang serba darurat, tanpa buku cetak, tanpa kursi, tanpa meja, semua duduk lesehan. Almarhum Rivai tidak kurang akal untuk mewujudkan anak-anak Jalur 23 menjadi pintar. Mirip sekolah jaman perjuangan 1945. Meski tanpa buku, anak-anak serius mendengar Pak Rivai mengajar, termasuk saya.


Rapat dewan redaksi harian Sumatera Ekspres

Namanya juga sekolah darurat, pembagian kelas terkadang juga disesuaikan umur murid-muridnya. Bila muridnya cocok untuk duduk di kelas lima atau enam, mereka adalah duduk di kelas tersebut. Dan saya ketika trans, sebenarnya kelas 1 SMP di Jawa, namun karena di desa Sukamulya belum ada SMP, terpaksa saya mundur kelasnya, yaitu mengulang di kelas enam.
Wawancara bersama Gubernur Sumsel H Ir Syahrial Oesman

Meskipun sekolah gratis, warga banyak juga yang tidak sekolah lantaran lebih mengutamakan nyangkul di sawah. Bisa dimaklumi karena mencangkul adalah kerja nyata dan bisa menghasilkan. Sedangkan sekolah, anggapan sebagian masyarakat hanya sebagai syarat agar bisa berhitung, membaca dan menulis.

Wawancara bersama Pangdam II Sriwijaya, Mayjen Syariffudin Tipe

Setelah tahun ajaran baru, tamatan SD ini bingung harus ke mana lagi. Sedangkan Pak Rivai hanya mengantarkan anak-anak pada tingkat SD saja. Maka muncul pahlawan pendidikan yang lainnya, yaitu Pak Kusnan, Suyono, Sunarto, Rasiwan, Ngalimun, Bu Warni, Bu Sur dan lain-lain. Mereka benar-benar pahlawan bagi warga jalur 23 desa Sukamulya. Para guru ini tidak ditunjuk siapa-siapa, bukan juga dari instansi pemerintah seperti Depdikbud dan lain-lain, melainkan inisiatif sendiri dan benar-benar relawan tanpa digaji.Merencanakan rubrikasi Edisi Minggu Harian Sumatera Ekspres

Kadang-kadang murid-muridnya punya inisiatif, karena tidak mampu membayar guru, murid-murid secara bergantian membantu para guru menggarap ladangnya masing-masing. Dengan cara imbal balik itulah semua lancar dan saling menguntungkan, meskipun itu tidak diinginkan para guru.

Perjalanan jurnalistik bersama para redaktur se-Jawa Pos Grup ke Kudus

SD yang lapuk dan nyaris ambruk itu tak ubahnya kawah candradimuka yang sakti dan berhasil melahirkan orang-orang hebat. Mereka ada yang jadi tentara, guru, dosen, wakil rakyat (DPR), camat dll. Bahkan sekarang banyak sarjana-sarjana dari Airsugihan. Tak disangka pula dari SD yang buruk itu muncul seorang redaktur senior Harian Sumatera Ekspres (Perintis berdirinya Sumatera Ekspres/Sumeks sejak Surya Persindo/Media Indonesia 1990) harian terbesar untuk wilayah pulau Sumatera. Dari tempat yang terisolir itu, justru mampu menghantarkan sang redaktur keliling dunia. Perjalanan jurnalistik keluar negeri, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, dan China. Foto diatas ketika singgah di Singapura.

Itulah SD yang penuh dengan nilai juang, SD yang menjadi pelopor sekolah gratis yang sesungguhnya. Guru-guru yang memiliki semangat idealisme, meski dirinya harus meleleh oleh api semangatnya. Almarhum Rivai telah mengantarkan generasi transmigrasi ke dunia global dan teknologi, meski dirinya sendiri belum sempat menyaksikan keberhasilan anak-anak didiknya.Dan tidak setiap anak didik tahu cara berterima kasih kepadanya. Para pahlawan lainnya yang kini sudah mendapat penghargaan pemerintah dan diangkat sebagai PNS (guru tetap) adalah Pak Kusnan, Suyono, Sunarto, Rasiwan, Ngalimun dan lain-lain. Mereka lebih pas disebut 'Pahlawan tanpa tanda jasa', karena hasil karyanya tidak mereka nikmati, tapi dinikmati orang lain. Terima kasih Gubernur Sumsel Ir Syahrial Oesman, yang telah mengangkat derajat para guru kami menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Trima kasih guru-guruku. Tuhan Yang Maha Esa selalu menyertai langkahmu.


Panen Raya di AirsugiKanan 2007

Panen raya di jalur 23, 25, 27, 29, dan 31 kecamatan Airsugihan kanan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Maret-April 2008. Seperti biasa, usai kemarau panjang, masyarakat Airsugihan selalu menikmati panen yang cukup baik. Dalam 1 Ha lahan, rata-rata menghasilkan 60 karung lebih, atau rata-rata 8 sampai 15 ton gabah. Setiap Kepala Keluarga (KK) bisa menggarap lebih dari 4 Ha lahan pada musim kemarau tiba. Mengapa masyarakat lebih suka menunggu musim kemarau? Pada musim kemarau, masyarakat sangat terbantu, terutama semua lahan bisa kering, rumput mati, tinggal membersihkan dan menunggu musim hujan tiba. Bila saatnya tiba, yakni musim penghujan, masyarakat tinggal menebar benih padi di hamparan sawahnya. Tidak perlu menanam satu persatu. Sebab sawah yang digarap tidak hanya satu atau dua hektar tapi bisa lebih. Cara seperti ini juga bisa mengirit ongkos penggarapan sawah, terutama racun rumput. Memang ada sebagian masyarakat yang menggarap lahan dengan cara membakar hutan, tetapi cara seperti itu kini sdh ditinggalkan. Rumput kering dibiarkan membusuk di sawah, sekaligus bisa difungsikan sebagai pupuk.






















14 Maret 2008

Harimau Sumatera Pemangsa Manusia

Kaki Pincang, Mati Kelaparan
   
Matinya harimau, satwa liar, yang memangsa korban Atam bin Abdullah (50), warga Sinar Marga Mekakau Ilir, OKU Selatan diperkirakan karena kelaparan. “Saat ditemukan tubuhnya membusuk. Kemungkinan besar kelaparan. Jika dilihat dari tulang dada yang keluar dan kondisi tubuh yang kurus. Bila sehat, maka kondisi badannya bisa seperti kuda,” kata Kapolsek Mekakau Ilir Aipda Herman melalui Kanit Reskrim Briptu Mardi Sinambela, kepada OKU Ekspres (Grup Sumatera Ekspres).
Harimau itu sendiri, setelah ditemukan warga, langsung dibawa ke Mapolsek Mekakau Ilir. Kenapa sampai memangsa manusia? Karena sang raja hutan itu tak lagi memiliki naluri memburu mangsa seperti rusa, kera, babi akibat pergelangan kaki kanan depan harimau putus terjerat sling—perangkap yang biasa digunakan penduduk untuk menangkap rusa atau babi di hutan.
“Untuk memutuskan kaki dari sling tersebut dibutuhkan waktu hingga tujuh hari. Karena itu setelah bebas dari jeratan langsung merasa lapar,” jelas Mardi. Karena kakinya telah pincang dan tidak mendapatkan binatang makanannya harimau tersebut mencari mangsa lain seperti manusia dengan cara menghadang.
Ada cerita menarik sehari sebelum peristiwa mengerikan yang menimpa korban Atam. Seorang tukang ojek yang melintas di jalan tersebut hampir menjadi korban keganasan sang harimau. ”Tukang ojek tersebut nyaris menjadi korban. Begitu mendengar
auman suara harimau, tukang ojek tersebut langsung lari.”Tukang ojek tersebut mengaku sempat melihat kaki harimau yang hendak menerkamnya pincang satu. Nah, kesaksian tukang ojek inilah yang menguatkan dugaan bahwa yang memakan korban Atam adalah harimau yang dilihatnya. ”Tukang ojek yang melihat ciri-ciri harimau tersebut seperti yang dikemukakan warga, yakni kakinya putus satu, seminggu dari kejadian akhirnya ditemukan tewas sendiri,” kata Mardi.
“Setelah memangsa Atam, diperkirakan harimau tersebut kesulitan mencari mangsa lain. Para penduduk sudah takut ke kebun, akibatnya harimau pun mati kelaparan,” jelas Mardi.Sayangnya, kondisi tubuh harimau saat dibawa Mapolsek sudah tidak utuh lagi. Bahkan sebagian besar “aksesorinya” hilang dilucuti penduduk. Setidaknya, ada tujuh bagian tubuh yang hilang yakni kaki kanan putus kena jerat bahkan sudah membusuk, kuku kiri hilang satu, empat taring, kumis, kulit muka sampai hidung, ujung ekor, dan kedua kuping ju
ga hilang ikut dipotong. ”Karena sudah membusuk dan dipenuhi belatung sehingga harimau tersebut sudah kita kuburkan,” kata Mardi.
Mardi sendiri sudah tidak heran adanya harimau yang “turun gunung” mencari mangsa. Perihal pengaduan seperti ini sudah sering masuk ke pihaknya, tetapi pengaduan tersebut sebatas harimau memakan binatang ternak piaraan penduduk seperti kambing. Terganggunya habitat harimau di Hutan Lindung Pematanggung, Kecamatan Buay Sandang Aji, salah satu penyebabnya. Sebagian besar hutan tersebut telah menjadi lahan pertanian dan pemukiman penduduk.”Meski hutan tersebut masuk di Kecamatan Buay Sandang Aji, tetapi jaraknya lebih dekat ke kita, hanya 15 kilometer. Bahkan, akhir tahun lalu ada lima harimau yang t
erlihat warga turun gunung,” ungkap Mardi.Camat Mekakau Ilir, Sofyan Wahid, membenarkan habitat harimau terganggu akibat hutan yang mulai rusak di wilayahnya. Bahkan, para penduduk pernah mendesak agar harimau yang turun gunung dibunuh. Namun keinginan tersebut langsung ditepisnya karena harimau termasuk binatang yang dilindungi.
Bahkan tiga desa di wilayahnya masuk ke kawasan hutan lindung yakni Desa Selabung Belimbing, Desa Kota Baru, dan Sinar Marga. Untuk itu, pihaknya terus berupaya mengadakan penyuluhan kepada para penduduk agar tidak merambah hutan lagi. ”Kita setiap satu bulan sekali melakukan pertemuan kepada para kades yang intinya agar para penduduk tidak merambah hutan lagi,” tandasnya.(mg1)
 
 
 

Jumlahnya sekitar 400 Ekor

Daya Jelajah 100 km

Fenomena munculnya satwa-satwa liar masuk ke area pemukiman penduduk, seperti keganasan harimau Sumatera di Mekakau Ilir, Muara Dua, OKU Selatan yang mencabik-cabik Atam bin Abdullah (50) hingga tewas, dianggap bukan hanya suatu kebetulan. Menurut Kepala Urusan Perlindungan Hutan (Kaur Linhut) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel ada banyak faktor yang mengakibatkan satwa langka yang dilindungi itu keluar dari habitatnya.”Salah satunya kerusak

an habitat satwa yang dilindun gi. Ini bisa karena ulah manusia itu sendiri. Di antaranya penebangan hutan se cara serampangan,” kat a Edi Sopian Ssos kepada Sumatera Ekspres kemarin.
Alasan lain harimau Sumatera (phantera tigris sumatrae) memperluas wilayah jelajahnya masuk ke pemukiman adalah akibat menipisnya makanan di dalam hutan.
”Makanannya kan sepeti babi, kijang, danhewan lainnya. Karena manusia juga sering memburu binatang tersebut, otomatis makananharimau semakin tipis juga.’’
Berdasarkan hasil penelitian pem
erhati satwa di Indonesia disebutkan bahwa batas wilayah jelajah seekor harimau jantan dewasa sejarak lebih kurang 100 kilometer bujur sangkar. ”Sesuai dengan sifat harimau yang territorial habit atau tak menginginkan adanya dua pemimpin dalam satu wilayah jelajah mengharuskan salah satu harimau jantan yang kalah bersaing harus menyingkir dan mencari wilayah yang baru. Selain memang sifat liar dan buas yang melekat,” ucap Edi.
Makanya,Edi mengimbau kepada masyarakat terutama yang berada dekat dengan hutan konservasi yang mengalami konflik dengan satwa liar, perlu menginformasikan kepada Seksi Konservasi Wilayah (SKW) sebagai perpanjangan tangan dari BKSDA. ”Jadi seharusnya warga melaporkannya kepada Seksi Konservasi,” jelasnya.
Berbagai upaya akan dilakukan se suai dengan tugas bagian SKW. Semisal pihak SKW dan BKSDA bisa melakukan penggiringan lalu penangkapan hingga pada upaya melakukan evakuasi terhadap satwa liar tersebut. Seiring terancamnya keberadaan dari harimau Sumatera yang hampir punah ini berdasarkan hasil survei terakhir kali yang dilakukan lembaga peneliti satwa langka tahun 2006, tidak kurang dari 50 ekor harimau Sumatera punah dan diperdagangkan masyarakat. Baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional setiap tahunnya.

Satwa ini sendiri diperdagangkan dalam bentuk utuh ataupun terpisah-pisah per bagian seperti cakar, gigi taring, misai/kumis, kulit atau pun tulang. Spesies langka itu dewasa ini diperkirakan kurang dari 400 ekor dan tersebar di Provinsi NAD, Sumbar, Jambi, Bengkulu dan Lampung, seperti di Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit 12, Bukit 30, Taman Nasional Wai Kambas, Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Bukit Barisan Selatan.(22)